Tadi sekilas saya melihat beberapa informasi terkait masalah besaran subsidi listrik yang tengah dipatok oleh pemerintah, tak tanggung-tanggung untuk RAPBN tahun 2011 menyentuh angka Rp.45-55 T. Padahal PLN ngarep dapet tambahan dana 25 T, jadi Rp.65,8 T. (lah kuotanya aja kisaran 40 T).Sekedar informasi alokasi subsidi listrik tahun 2011 itu Rp.54 T, di pangkas oleh DPR 10 T, itulah sebabnya kemaren lagi-lagi kita ribut tentang kenaikan TDL sekitar 10-15 perse
Tiap tahun PLN memang selalu mengajukan kenaikan anggaran subsidi, mengingat biaya operasional yang di butuhkan selalu meningkat tajam. Hal yang paling parah adalah keterlambatan pengoperasian Pembangkit berbahan batu bara dan pasokan gas, akibatnya BBM pun kembali digunakan
Sebagai anak teknik yang kebetulan lulus di elektro dan kebetulan juga ngambil sub prodi teknik energi, minimal saya tahu betul  bagaimana  akibatnya jikalau pembangkit-pembangkit PLN menggunakan BBM tiap satuan waktunya. harga perkilowatt (KWH) kalau kita menggunakan BBM yakni berada dikisaran Rp.3000/Kwh atau singkatnya total pengeluaran PLN perkilowattnya adalah Rp.1200 Kwh sedangkan harga jual listrik per kwhnya adalah Rp.630/Kwh. Jadi jelas anak kecilpun tahu bahwa dalam konsep ekonomi sederhana  data ini menunjukkan kita pada satu kesimpulan sederhana, rugi. Maka tak heran PLN harus mengemis kepada DPR untuk kenaikan anggaran subsidinya tiap tahunnya.
Sebenarnya dengan logika sederhanapun kita tahu bahwa, kalau saja asupan energi primer pembangkit-pembangkit  PLN apalagi penggunaan batubara dan gas, yang biayanya jauh lebih murah maka, PLN mampu menghemat dana sekitar 15 T tiap tahunnya. Angka ini seharusnya di ributkan di parlemen yang berwenang. Namun entahlah justru kita disibukkan pemberitaan media yang kasak kusuk dengan sajian-sajian yang berimbuhan politik. Namun apapun yang terjadi kenaikan TDL tak bisa kita hindari sekalipun, mengingat dalam beberapa sajian data bahwa kebutuhan subsidi PLN selalu saja meningkat.
any advice ?