Masih teringat jelas salah satu pernyataan yang menurut saya cukup kontroversional dari sang dirut PLN, Dahlan Iskan, dalam salah satu pernyataannya tempo hari di Unhas. “…Kalo bisa boros Listrik…”. Pernyaatan ini merupakan tanggapan langsung dari pertanyaan Prof.Arif, salah satu guru besar Teknik Elektro, yang mempersoalkan upaya dari beberapa pihak entah dari PLN atau para penggiat dan pemerhati kondisi listrik yang senantiasa menggaungkan semua konsumen untuk menghemat listrik. Pertanyaan Prof Arif tadinya sempat membuat saya cukup terkejut sekaligus bingung, lantaran beliau mencoba mencocok-cocokkkan persoalaan itu dengan pendekatan hukum kekekalan energi.&nbsp;</span></div>
<div style=”text-align: justify;”>
<span style=”font-size: small;”>Menurut saya beliau mencoba mengisyaratkan bahwa yang namanya energi, dalam hal ini listrik ketika sudah disuplai sedemikian rupa ke beban maka hal itu merupakan kerugian jika kita mencoba hemat. Mengapa karena listrik merupakan energi yang tidak bisa disimpan. ketika energi listrik sudah disuplai, mau dia sampai ke beban atau tidak yang jelas energinya sudah di’keluarkan’. itulah sebabnya ketika PLN mengalami gangguan&nbsp; di transmisi, entah karena faktor alam atau yang lain, maka PLN akan mengalami kerugian dari segi energi yang disalurkan. terus untuk poin kedua, masalah statemen pak dahlan, supaya kita harus boros, hal ini juga boleh dibenarkan mengingat PLN kan perusahaan, produk listrik merupakan komoditas yang mereka jual ke pelanggan. sederhananya makin banyak orang yang beli listrik maka makin banyak pemasukkan PLN. Namun persolaan akan muncul ketika asupan kebutuhan energi listrik itu terpenuhi dengan baik, dalam hal ini elektrifikasinya sudah menyentuh angka yang maksimal. Kenyataannya, masih banyak lapisan masyarakat yang bahkan belum menikmati&nbsp; listrik .Maka dari itu lahirlah konsep hemat listrik, supaya penggunaan listrik lebih optimal bagi seluruh lapisan masyarakat.
&nbsp;</span></div>
<div style=”text-align: justify;”>
<span style=”font-size: small;”>Lantas jika kiranya hemat listik merupakan salah satu jawaban, apakah hal ini bisa kita kita laksanakan ? jawabannya sulit. sangat sulit malah. Hal ini dikarenakan budaya konsumtif energi para pelanggan listrik tidak bisa kita bendung, Kita tidak dapat serta merta dapat mengatur pola penggunaan daya listrik para pelanggan, itu adalah hak mereka, selama mereka mampu membayar maka selama itu pula mereka dapat menggunakan listrik sesuai keinginannya. Maka dari itu titik pergerakan utama dalam sosialisasi hemat listrik adalah kesadaran pelanggan. Hanya itu.</span></div>
<div style=”text-align: justify;”>

</div>
<div style=”text-align: justify;”>
<span style=”font-size: small;”>Sebenarnya ada salah satu konsep yang menurut saya cukup ampuh untuk menekan penggunaan listrik berlebih, jika anda sepakat bahwa hemat listrik itu penting. yakni dengan regulasi.
Regulasi yang saya maksud disini diturunkan dengan istilah baru yakni Insentif dan Desentif. Dari data PLN, untuk pelanggan rumah tangga kecil (R1) 450 VA, rata-rata pemakaiaan nasional per bulan ditetapkan 75kwh, R1 900 VA sebesar 115 kWh, R1 1300 VA sebesar 197 kwh dan R1 2200 VA ditetapkan sebesar 354 kwh. Data rata-rata penggunaan nasional ini kita jadikan sebagai acuan tunggal untuk menentukan regulasi ini (misal). Singkatnya begini, jika pelanggan kategori apapun menggunakan listrik 10% dibawah data pemakaiaan nasional, contoh pelanggan menggunakan 60 kwh untuk R1 450 ( 75 kwh) artinya dia mendapatkan insentif pemotongan harga listrik sebesar 10% di bulan tersebut. Jika pelanggan tersebut menggunakan listrik 10% di atas data tadi, maka dia dikenakan kenaikan biaya 10% dari pemakaiannya di bulan tersebut. Program ini sebenarnya sudah diterapkan kepada pelanggan R3, dimana PLN berharap menghemat subsidi listrik hingga Rp.18,66 T,entah kelanjutanya. Namun bagi saya jika memang serius program ini harus diterapkan kepada&nbsp; seluruh komponen pelanggan agar mereka sadar. Jika hal ini diterapkan maka para pelanggan akan senantiasa was-was sekaligus berharap mendapatkan pemotongan tiap bulannya, pilihan-pilhan itulah yang kemudian akan mengontrol penggunaan listrik para pelanggan.